Fashion FashionPanduan ringkas untuk pembaca yang ingin paham tanpa bertele-tele.
general

Fashion sebagai Cermin Identitas Digital di Kalangan Anak Muda

Mengamati bagaimana fashion menjadi alat komunikasi non-verbal di era media sosial, khususnya di kalangan generasi muda Indonesia.

29 Apr 2026 · 3 menit baca · oleh Elisa Halimah Salim
Fashion sebagai Cermin Identitas Digital di Kalangan Anak Muda

Beberapa minggu lalu saya ikut ngopi di sebuah kafe dekat alun-alun Telukkuantan. Di meja sebelah, tiga remaja duduk sibuk memotret satu sama lain dengan ponsel. Satu memakai kemeja flanel vintage, satunya oversized hoodie hitam dengan grafir band indie, satu lagi streetwear lokal dengan logo mencolok. Mereka bukan sekadar berpakaian — mereka berbicara lewat pakaian. Saya jadi berpikir: di era media sosial seperti sekarang, fashion bukan lagi soal menutup tubuh atau mengikuti musim. Ia sudah berubah menjadi bahasa visual yang cepat dibaca dan mudah dinilai.

Fashion sebagai Bahasa Sosial

Fashion selalu jadi penanda identitas, tapi dulu lebih lambat. Dulu orang baru tahu selera fashion tetangganya saat bertemu langsung. Sekarang cukup scroll Instagram atau TikTok — dalam hitungan detik kita sudah membaca kode busana seseorang: apakah ia bagian dari komunitas musik tertentu, pegiat thrift, atau penggemar merek desainer.

Yang menarik, proses ini juga balik. Remaja yang saya lihat di kafe itu memilih pakaian bukan hanya buat kenyamanan fisik, tetapi untuk kenyamanan digital — supaya foto mereka dapet respons tertentu. Pakaian jadi thumbnail persona digital. Seiring popularitas platform kayak Pinterest dan TikTok Shop, tren fashion menyebar jauh lebih cepet dari sebelumnya. Celana kulot atau cardigan rajutan tiba-tiba muncul di feed dan langsung dipake di banyak tempat, termasuk kota kecil kayak Telukkuantan.

Dari perspektif sosiologis, ini bukan fenomena baru, tapi kecepatannya memang belum pernah terjadi. Sebuah laporan dari Kompas nyebutin bahwa pengaruh konten visual di media sosial sangat signifikan dalam membentuk preferensi fashion generasi Z dan milenial di Indonesia [Kompas, 2023]. Buat saya sih, ini semacam re-branding identitas secara massal — tiap orang jadi kurator gaya masing-masing.

Dari Tren Global ke Adaptasi Lokal

Tapi yang paling seru diamati adalah gimana tren global beradaptasi di tingkat lokal. Thrifting misalnya — yang di Barat identik sama gerakan lingkungan dan ekonomi — di Indonesia tumbuh dengan ciri khasnya sendiri. Di Telukkuantan, thrift shop bermunculan di pinggir jalan, jual baju impor bekas dengan harga miring. Anak-anak muda di sini dengan kreatif milih jaket bomber bekas dipadu batik. Campuran yang nggak bakal kamu temuin di runway Milan, tapi justru lebih otentik.

Fenomena ini nunjukin kalo fashion bukan satu arah. Remaja di kota kecil nggak sekadar nelen mentah-mentah apa yang viral di ibukota. Mereka milih, modifikasi, dan bikin jadi punya mereka sendiri. Nah, di sinilah letak rasa ingin tahu saya: kenapa suatu tren tertentu bisa nempel dan yang lain enggak? Saya curiga jawabannya ada di tingkat relevansi sosial. Ketika sebuah gaya bisa diadopsi tanpa ninggalin akar budaya lokal, gaya itu bakal lebih gampang diterima.

Penutup saya sederhana: besok pas kalian berpakaian, sadari bahwa setiap lapisan kain yang kalian kenakan adalah kalimat panjang yang tanpa sadar kalian sampaikan ke orang lain. Fashion — terutama di era digital — adalah percakapan diam yang sangat keras. Dan saya, dari sudut kota kecil ini, cuma pengen terus ngamati dan ngaitin cerita dari setiap cara kita berdandan.

Remaja bergaya streetwear di depan kafe di Telukkuantan Thrift shop lokal dengan pakaian bekas impor

Selengkapnya di: sumber resmi

Tag: #fashion #tren sosial #anak muda #media sosial